Jumat, 18 April 2014

Selamat Ulang Tahun, Pah



Hari ini, tepat 51 tahun yang lalu Tuhan melahirkan lelaki hebat ke dunia. Lelaki yang selalu setia dan mencitai keluarganya. Lelaki yang sempurna sebagai suami bagi istrinya. Lelaki yang sempurna sebagai ayah bagi anak-anaknya. Lelaki yang menjadi kiblat sosok suami idaman bagi putri-putrinya. Lelaki yang menjadi kiblat sosok suami di masa yang akan datang bagi putranya.

Ya, tepat 51 tahun yang lalu Tuhan melahirkanmu ke dunia, Pah.

Aku adalah salah satu dari banyak orang yang mendoakanmu di hari bahagia ini. Ibu sepertinya jauh lebih bahagia dan tak henti mengucap syukur telah dipersatukan Tuhan dengan lelaki sehebatmu. Aku, teteh, aa tak kalah berterimakasih kepada Tuhan telah menjadikan kami anak yang paling beruntung mempunyai ayah sehebatmu.

Hari ini, ku ucap banyak doa kepada Tuhan. Tuhan, panjangkan usia lelaki ini, sehatkan dia, berkahi ia rizki yang barakah, pertahankan selalu senyum dan tawanya, tegarkan selalu jiwa raganya, kuatkan selalu imannya, teguhkan selalu pendiriannnya, tuntun kami untuk selalu membahagiakannya. Tuhan, terimakasih telah melahirkan lelaki terhebat ini ke dunia, terimakasih telah menyatukan kami dalam satu keluarga yang luar biasa yang dikemudikan oleh lelaki yang  jauh luar biasa.

Pah, terimakasih untuk cinta yang tak pernah berkesudahan, untuk kasih sayang yang tak pernah mereda, untuk segala tenaga dan keringat usahamu menghidupi kami sekeluarga. Pah, terimakasih telah menjadi sosok ayah yang luar biasa, terimakasih telah memberi kami kehidupan yang indah tanpa sedikitpun merasa kekurangan meski tanpa kekayaan harta dunia yang berlimpah, terimakasih tak terhingga untukmu, untuk segalanya, untuk semuanya.


Teruntuk lelaki terhebat yang akan selalu menjadi nomor satu untukku,  teruntuk lelaki yang hati dan bibirnya selalu mengucap doa untukku, selamat ulang tahun. I love you. Aku tahu, kasihmu tak akan pernah menua :)



-Windi Dwirexsi-
Selasa, 11 Maret 2014

Happy Thoughts



Saat pertama kali kamu datang, ada banyak pertanyaan yang tak henti ku bisikkan kepada Tuhan. “Tuhan, apakah dia orangnya? Apakah ini jawaban yang Kau beri dari sekian banyak doa di sepanjang malamku? Apakah dia yang akan terus tegak berdiri dan menopang segala risauku? Apakah dia yang tak akan banyak menuntut kekuranganku? Apakah dia yang akan dengan sadar menerima apa yang tak ku miliki?”

Dan hingga saat ini, setelah ratusan hari berganti, meski jawaban pasti dari-Mu belum kutemui. Dia masih tetap disini. Dia masih membagi tawa yang ia miliki. Dia masih penuh dengan kesabaran dalam menghadapi egoku. Mungkinkah ini benar-benar jawaban dari pertanyaanku kala itu?

Aku tak pernah menjadi bukan diriku hanya untuk mendapatkan cintamu. Bersamamu aku tak perlu cinta yang seperti itu.

Denganmu, aku mampu melupakan hal-hal buruk karena aku tahu kau akan membagi hal-hal yang jauh lebih indah. Dengamu, aku ingin berusaha menjadi yang terbaik karena kerap kali merasa kau terlalu baik untukku. Bersamamu, aku tak malu untuk mereka-reka mimpi yang tak masuk akal bahkan gila sekalipun. Bersamamu, aku mulai berpikir untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku, istri yang setia tanpa diminta, nenek yang dirindukan oleh cucu-cucunya. Ya, karenamu aku terus belajar untuk menjadi perempuan yang selalu dicintai Tuhannya.

Namun pada kenyataanya, tidak banyak yang bisa diberikan olehku. Aku hanya mampu membantu menemukan mimpi dan cita-citamu. Aku hanya bisa menemanimu melewati apa yang kau takutkan, menyeimbangkanmu dari apa yang kau ragukan. Aku hanya mempunyai senyum yang akan selalu kubagi hingga usiamu menua. Aku hanya mempunyai dua telinga yang senantiasa mendengar semua ceritamu. Aku hanya punya hati yang kuyakini tak akan kubagi. Ya, aku hanya bisa memastikan untuk selalu ada untukmu dalam setia.

Aku tahu, aku yang selalu mencaci jarak, dan yang selalu berkata “semua akan baik-baik saja” itu kamu. Aku yang selalu marah-marah karena merindukanmu, dan yang selalu segera datang setelahnya itu kamu. Ya, aku yang selalu membuatnya rumit, dan yang selalu menyederhanakannya itu kamu.



“Tuhan, apakah ini benar-benar sebuah jawaban atau aku yang mengartikannya dengan berlebihan?"



-Windi Dwirexsi-
Rabu, 26 Februari 2014

Setelah Ratusan Hari



Hari ini, masih banyak hal yang ingin kubagi (kuceritakan). Sejak pertama kali percakapan itu tercipta, ada arus yang membuatku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Sejak pertemuan mata yang pertama, seolah ada alur untuk membuat kita terjaga (tak membiarkan jarak meraja).

Hari ini, sudah ratusan hari berlalu sejak pertama kamu menemukanku. Sudah ratusan hari kita lewati (kita bagi bersama segala gejolak dan rasa dalam hati). Sudah ratusan hari kau mengirim bahagia dan mencipta hal-hal manis yang selalu terngiang di kepala.

Sudah satu tahun berlalu. Dan yang kurasa masih sama. Tak henti kutitip doa kepada Raja Semesta, sekalipun waktu terus berputar tolong jangan biarkan satupun rasa ini memudar. Sudah satu tahun berlalu. Dan yang kutegaskan masih serupa. Aku ingin terus menjaga hati pria ini yang telah memilihku untuk jadi perempuannya.

Bersamamu, hal-hal sederhana terasa istimewa. Hariku diisi dengan serangkaian peristiwa manis penuh tawa. Sekalipun hari pertengkaran itu tiba, kau tak pernah banyak bicara. Katamu, dari sana akan ada hati yang dilatih lebih kuat, lebih hati-hati dalam berbuat, lebih menjaga hati dengan erat.

Kamu adalah bingkisan sempurna dari Sang Pencipta. Jawaban dari ribuan doa. Penyembuh luka. Penyempurna tawa. Pencipta surga dunia. Pencuri kekaguman. Pembuat nyaman sebuah ruang kosong dengan kehadiran. Pembuat rasa takut akan sebuah ketiadaan, kepergian dan kehilangan.

Hari ini. Ratusan hari kita telah berlalu. Selalu ada doa dan syukur yang terucap dalam sujudku. Tuhan, terimakasih telah mempersatukan kami, terimakasih untuk rasa yang tersedia untuk kami. Tuhan, permudah jalan kami untuk mendeklarasikan rasa bahagia nan luar biasa ini di hadapan semesta. Aamiin.



-WD-

Terimakasih



Mungkin semua yang terjadi hari ini sebelumnya hanya sebuah mimpi. Kita. Cerita kita. Tawa kita. Bahagia kita. Kebersamaan kita. Ya, dua hingga tiga tahun yang lalu kita belum apa-apa. Namamu hanya satu dari ratusan kakak kelas di sekolah. Sedang hari ini, entah sedari kapan, namamu terukir dengan begitu indah.

Terimakasih macam apalagi yang harus kuungkapkan kepada sang pencipta? Rasa syukur yang seperti apalagi yang bisa kutunjukkan kepada Tuhan kita? Setelah orangtua, kau adalah yang selanjutnya; penyumbang tawa dan penerima cintaku yang selanjutnya.

Sabar luar biasa dalam menghadapi egoku yang tak kalah luar biasa, itu sabarmu. Tutur lembut setiap kali kutinggikan suara, itu tutur lembutmu. Tak ada balasan untuk egoku. Tak ada balasan untuk melawan emosiku.

Entah Tuhan menciptakan hatimu dari apa. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Dan jika memang ada, aku memilihmu setelah orangtua.

Ini tidak berlebihan. Ini sesuai dengan apa yang tak henti kurasakan. Jika nanti kau ku buat terluka, kupasrahkan diri agar Tuhan membalasnya dengan luka yang setara. Dan sesalku pasti tiada dua jika menyia-nyiakan anak Adam sepertimu.

Sama seperti tulisanku yang lain:
Terimakasih telah memilihku. Terimakasih telah berbagi cerita bahagia denganku. Terimakasih telah menjadi pangeran untuk seorang upik abu. Terimakasih dan tetaplah disini.

Last. Tuhan, permudah jalan kami untuk lekas menjadi halal di mataMu, perkuat tali kasih dan rasa yang luar biasa ini sampai nanti di surgaMu. Tuhan, jaga dia, lindungi dia, bahagiakan dia, sehatkan dia, lancarkan urusannya, kuatkan iman islamnya, bangkitkan ia kembali di saat jatuhnya. Tuhan, jaga hatinya, tetapkan ia mencinta pada dua wanita (daku dan ibunya).



-WD-
Rabu, 18 Desember 2013

Untukmu



Tetes embun di ranting yang kian ditinggal daun itu hanya memasung kaku, pun tatap mataku tak henti berkelana dengan tuan rindu, ya kamu.

Lama tak ku lihat teduh pandangan itu, lama tak kurasa hangat rengkuh itu. Kamu, tuan rinduku, terdengarkah jerit ini?

Burung pipit mencengkramkan jemarinya di ranting yang tadi, begitu juga dengan imaji ini. Sayang, bagaimana kota sebrang itu? Apakah baik-baik saja? Bagaimana kabar tubuhmu? Tak apakah setelah ratusan hari tanpa temu?

Tak henti ku tatap angkasa, mengulang ribuan tanya yang sama, kapan pesawatmu tiba? Rindu ini terlalu mengiba.

Tetap jaga hati dan kondisi sayang, semoga pertemuan segera datang.



-windidwirexsi-
Kamis, 12 September 2013

Memasung Rindu




Memasung rindu yang kian meruak ke seisi jantung
Berdetak kuat mengaduh jembatan ruang penuh kenang
Hari itu, sayang, yang benar-benar ingin ku ulang


Palung rasa kian tak berdaya mendamba temu
Tak peduli mereka, tak peduli jarak kita, aku hanya sedang merindu


Di gelap yang kian jatuh, ku titip satu kantong rindu yang terisi penuh
Bukalah tutupnya dengan hati-hati
Rasakan hingga banyangku benar-benar menghampiri







Windi Dwirexsi
Senin, 09 September 2013

H-20



Bukan hal yang baru memang. Sebelumnya kita sempat membicarakan ini, bukan? Kita sempat membuat beberapa persiapan jika ini benar-benar terjadi. Lantas ketika surat pemindahanmu benar-benar tiba, mengapa ada desakan kuat dalam dada? Mungkin ini luka, tapi mengapa? Mungkin ini kecewa, tapi kepada siapa? Negara?

Apa yang dapat kita perbuat sekarang? Pulau sebrang sudah menunggumu, sayang. Dan kita, apakah mampu melawan lautan lepas dan daratan yang begitu luas?

Bagaimana dengan mimpi kita? Bagaimana dengan rencana akhir tahun kita? Akankah rasa kita akan sanggup menang melawan jarak sepanjang Bandung-Medan? Sedang Bandung-Jakarta pun kita kerap kali kewalahan.

Apa daya? Ini bagian dari pekerjaan, perjalanan; garis Tuhan. 

Lupakan, kita masih mempunyai 20 hari untuk berdekatan. Jika memang kita adalah pasangan sesuai rencana Tuhan, jarak ini bukanlah sebuah penghalang. Jika Tuhan memang menakdirkan kita untuk bersama, bahagia itu pasti benar-benar akan tiba.

Baik-baik disana nanti. Jaga diri. Jaga kondisi. Dan (semoga kita bisa) jaga hati.





-Windi Dwirexsi

Windi Dwirexsi

kesampingkan duka, Tuhanmu punya rencana tentang bahagia

Jumat, 18 April 2014

Selamat Ulang Tahun, Pah



Hari ini, tepat 51 tahun yang lalu Tuhan melahirkan lelaki hebat ke dunia. Lelaki yang selalu setia dan mencitai keluarganya. Lelaki yang sempurna sebagai suami bagi istrinya. Lelaki yang sempurna sebagai ayah bagi anak-anaknya. Lelaki yang menjadi kiblat sosok suami idaman bagi putri-putrinya. Lelaki yang menjadi kiblat sosok suami di masa yang akan datang bagi putranya.

Ya, tepat 51 tahun yang lalu Tuhan melahirkanmu ke dunia, Pah.

Aku adalah salah satu dari banyak orang yang mendoakanmu di hari bahagia ini. Ibu sepertinya jauh lebih bahagia dan tak henti mengucap syukur telah dipersatukan Tuhan dengan lelaki sehebatmu. Aku, teteh, aa tak kalah berterimakasih kepada Tuhan telah menjadikan kami anak yang paling beruntung mempunyai ayah sehebatmu.

Hari ini, ku ucap banyak doa kepada Tuhan. Tuhan, panjangkan usia lelaki ini, sehatkan dia, berkahi ia rizki yang barakah, pertahankan selalu senyum dan tawanya, tegarkan selalu jiwa raganya, kuatkan selalu imannya, teguhkan selalu pendiriannnya, tuntun kami untuk selalu membahagiakannya. Tuhan, terimakasih telah melahirkan lelaki terhebat ini ke dunia, terimakasih telah menyatukan kami dalam satu keluarga yang luar biasa yang dikemudikan oleh lelaki yang  jauh luar biasa.

Pah, terimakasih untuk cinta yang tak pernah berkesudahan, untuk kasih sayang yang tak pernah mereda, untuk segala tenaga dan keringat usahamu menghidupi kami sekeluarga. Pah, terimakasih telah menjadi sosok ayah yang luar biasa, terimakasih telah memberi kami kehidupan yang indah tanpa sedikitpun merasa kekurangan meski tanpa kekayaan harta dunia yang berlimpah, terimakasih tak terhingga untukmu, untuk segalanya, untuk semuanya.


Teruntuk lelaki terhebat yang akan selalu menjadi nomor satu untukku,  teruntuk lelaki yang hati dan bibirnya selalu mengucap doa untukku, selamat ulang tahun. I love you. Aku tahu, kasihmu tak akan pernah menua :)



-Windi Dwirexsi-

Selasa, 11 Maret 2014

Happy Thoughts



Saat pertama kali kamu datang, ada banyak pertanyaan yang tak henti ku bisikkan kepada Tuhan. “Tuhan, apakah dia orangnya? Apakah ini jawaban yang Kau beri dari sekian banyak doa di sepanjang malamku? Apakah dia yang akan terus tegak berdiri dan menopang segala risauku? Apakah dia yang tak akan banyak menuntut kekuranganku? Apakah dia yang akan dengan sadar menerima apa yang tak ku miliki?”

Dan hingga saat ini, setelah ratusan hari berganti, meski jawaban pasti dari-Mu belum kutemui. Dia masih tetap disini. Dia masih membagi tawa yang ia miliki. Dia masih penuh dengan kesabaran dalam menghadapi egoku. Mungkinkah ini benar-benar jawaban dari pertanyaanku kala itu?

Aku tak pernah menjadi bukan diriku hanya untuk mendapatkan cintamu. Bersamamu aku tak perlu cinta yang seperti itu.

Denganmu, aku mampu melupakan hal-hal buruk karena aku tahu kau akan membagi hal-hal yang jauh lebih indah. Dengamu, aku ingin berusaha menjadi yang terbaik karena kerap kali merasa kau terlalu baik untukku. Bersamamu, aku tak malu untuk mereka-reka mimpi yang tak masuk akal bahkan gila sekalipun. Bersamamu, aku mulai berpikir untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku, istri yang setia tanpa diminta, nenek yang dirindukan oleh cucu-cucunya. Ya, karenamu aku terus belajar untuk menjadi perempuan yang selalu dicintai Tuhannya.

Namun pada kenyataanya, tidak banyak yang bisa diberikan olehku. Aku hanya mampu membantu menemukan mimpi dan cita-citamu. Aku hanya bisa menemanimu melewati apa yang kau takutkan, menyeimbangkanmu dari apa yang kau ragukan. Aku hanya mempunyai senyum yang akan selalu kubagi hingga usiamu menua. Aku hanya mempunyai dua telinga yang senantiasa mendengar semua ceritamu. Aku hanya punya hati yang kuyakini tak akan kubagi. Ya, aku hanya bisa memastikan untuk selalu ada untukmu dalam setia.

Aku tahu, aku yang selalu mencaci jarak, dan yang selalu berkata “semua akan baik-baik saja” itu kamu. Aku yang selalu marah-marah karena merindukanmu, dan yang selalu segera datang setelahnya itu kamu. Ya, aku yang selalu membuatnya rumit, dan yang selalu menyederhanakannya itu kamu.



“Tuhan, apakah ini benar-benar sebuah jawaban atau aku yang mengartikannya dengan berlebihan?"



-Windi Dwirexsi-

Rabu, 26 Februari 2014

Setelah Ratusan Hari



Hari ini, masih banyak hal yang ingin kubagi (kuceritakan). Sejak pertama kali percakapan itu tercipta, ada arus yang membuatku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Sejak pertemuan mata yang pertama, seolah ada alur untuk membuat kita terjaga (tak membiarkan jarak meraja).

Hari ini, sudah ratusan hari berlalu sejak pertama kamu menemukanku. Sudah ratusan hari kita lewati (kita bagi bersama segala gejolak dan rasa dalam hati). Sudah ratusan hari kau mengirim bahagia dan mencipta hal-hal manis yang selalu terngiang di kepala.

Sudah satu tahun berlalu. Dan yang kurasa masih sama. Tak henti kutitip doa kepada Raja Semesta, sekalipun waktu terus berputar tolong jangan biarkan satupun rasa ini memudar. Sudah satu tahun berlalu. Dan yang kutegaskan masih serupa. Aku ingin terus menjaga hati pria ini yang telah memilihku untuk jadi perempuannya.

Bersamamu, hal-hal sederhana terasa istimewa. Hariku diisi dengan serangkaian peristiwa manis penuh tawa. Sekalipun hari pertengkaran itu tiba, kau tak pernah banyak bicara. Katamu, dari sana akan ada hati yang dilatih lebih kuat, lebih hati-hati dalam berbuat, lebih menjaga hati dengan erat.

Kamu adalah bingkisan sempurna dari Sang Pencipta. Jawaban dari ribuan doa. Penyembuh luka. Penyempurna tawa. Pencipta surga dunia. Pencuri kekaguman. Pembuat nyaman sebuah ruang kosong dengan kehadiran. Pembuat rasa takut akan sebuah ketiadaan, kepergian dan kehilangan.

Hari ini. Ratusan hari kita telah berlalu. Selalu ada doa dan syukur yang terucap dalam sujudku. Tuhan, terimakasih telah mempersatukan kami, terimakasih untuk rasa yang tersedia untuk kami. Tuhan, permudah jalan kami untuk mendeklarasikan rasa bahagia nan luar biasa ini di hadapan semesta. Aamiin.



-WD-

Terimakasih



Mungkin semua yang terjadi hari ini sebelumnya hanya sebuah mimpi. Kita. Cerita kita. Tawa kita. Bahagia kita. Kebersamaan kita. Ya, dua hingga tiga tahun yang lalu kita belum apa-apa. Namamu hanya satu dari ratusan kakak kelas di sekolah. Sedang hari ini, entah sedari kapan, namamu terukir dengan begitu indah.

Terimakasih macam apalagi yang harus kuungkapkan kepada sang pencipta? Rasa syukur yang seperti apalagi yang bisa kutunjukkan kepada Tuhan kita? Setelah orangtua, kau adalah yang selanjutnya; penyumbang tawa dan penerima cintaku yang selanjutnya.

Sabar luar biasa dalam menghadapi egoku yang tak kalah luar biasa, itu sabarmu. Tutur lembut setiap kali kutinggikan suara, itu tutur lembutmu. Tak ada balasan untuk egoku. Tak ada balasan untuk melawan emosiku.

Entah Tuhan menciptakan hatimu dari apa. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Dan jika memang ada, aku memilihmu setelah orangtua.

Ini tidak berlebihan. Ini sesuai dengan apa yang tak henti kurasakan. Jika nanti kau ku buat terluka, kupasrahkan diri agar Tuhan membalasnya dengan luka yang setara. Dan sesalku pasti tiada dua jika menyia-nyiakan anak Adam sepertimu.

Sama seperti tulisanku yang lain:
Terimakasih telah memilihku. Terimakasih telah berbagi cerita bahagia denganku. Terimakasih telah menjadi pangeran untuk seorang upik abu. Terimakasih dan tetaplah disini.

Last. Tuhan, permudah jalan kami untuk lekas menjadi halal di mataMu, perkuat tali kasih dan rasa yang luar biasa ini sampai nanti di surgaMu. Tuhan, jaga dia, lindungi dia, bahagiakan dia, sehatkan dia, lancarkan urusannya, kuatkan iman islamnya, bangkitkan ia kembali di saat jatuhnya. Tuhan, jaga hatinya, tetapkan ia mencinta pada dua wanita (daku dan ibunya).



-WD-

Rabu, 18 Desember 2013

Untukmu



Tetes embun di ranting yang kian ditinggal daun itu hanya memasung kaku, pun tatap mataku tak henti berkelana dengan tuan rindu, ya kamu.

Lama tak ku lihat teduh pandangan itu, lama tak kurasa hangat rengkuh itu. Kamu, tuan rinduku, terdengarkah jerit ini?

Burung pipit mencengkramkan jemarinya di ranting yang tadi, begitu juga dengan imaji ini. Sayang, bagaimana kota sebrang itu? Apakah baik-baik saja? Bagaimana kabar tubuhmu? Tak apakah setelah ratusan hari tanpa temu?

Tak henti ku tatap angkasa, mengulang ribuan tanya yang sama, kapan pesawatmu tiba? Rindu ini terlalu mengiba.

Tetap jaga hati dan kondisi sayang, semoga pertemuan segera datang.



-windidwirexsi-

Kamis, 12 September 2013

Memasung Rindu




Memasung rindu yang kian meruak ke seisi jantung
Berdetak kuat mengaduh jembatan ruang penuh kenang
Hari itu, sayang, yang benar-benar ingin ku ulang


Palung rasa kian tak berdaya mendamba temu
Tak peduli mereka, tak peduli jarak kita, aku hanya sedang merindu


Di gelap yang kian jatuh, ku titip satu kantong rindu yang terisi penuh
Bukalah tutupnya dengan hati-hati
Rasakan hingga banyangku benar-benar menghampiri







Windi Dwirexsi

Senin, 09 September 2013

H-20



Bukan hal yang baru memang. Sebelumnya kita sempat membicarakan ini, bukan? Kita sempat membuat beberapa persiapan jika ini benar-benar terjadi. Lantas ketika surat pemindahanmu benar-benar tiba, mengapa ada desakan kuat dalam dada? Mungkin ini luka, tapi mengapa? Mungkin ini kecewa, tapi kepada siapa? Negara?

Apa yang dapat kita perbuat sekarang? Pulau sebrang sudah menunggumu, sayang. Dan kita, apakah mampu melawan lautan lepas dan daratan yang begitu luas?

Bagaimana dengan mimpi kita? Bagaimana dengan rencana akhir tahun kita? Akankah rasa kita akan sanggup menang melawan jarak sepanjang Bandung-Medan? Sedang Bandung-Jakarta pun kita kerap kali kewalahan.

Apa daya? Ini bagian dari pekerjaan, perjalanan; garis Tuhan. 

Lupakan, kita masih mempunyai 20 hari untuk berdekatan. Jika memang kita adalah pasangan sesuai rencana Tuhan, jarak ini bukanlah sebuah penghalang. Jika Tuhan memang menakdirkan kita untuk bersama, bahagia itu pasti benar-benar akan tiba.

Baik-baik disana nanti. Jaga diri. Jaga kondisi. Dan (semoga kita bisa) jaga hati.





-Windi Dwirexsi
 

Blog Template by BloggerCandy.com